oleh

BAZNAS Bantu Sidir Jadi Produsen Kopi

JAMBI (Suarakaryanews.com): Sidir mungkin tak pernah mengira, akan banting setir dari petani karet ke produsen kopi. Namun itulah yang terjadi, keadaan memaksanya untuk terus berinovasi demi bisa bertahan.

Saat menjadi petani karet dalam setiap bulannya Sidir bisa memanen karet sekitar 80 kilogram. Namun, harga jual karet yang rendah, sekitar Rp6.000 per kilogram, membuat penghasilannya tak cukup untuk kebutuhan keluarga. Jika dihitung-hitung, dia hanya membawa pulang Rp480 ribu untuk menghidupi istri dan lima anaknya.

“Harga karet sangat rendah. Hasil panen tidak cukup untuk menafkahi keluarga saya,” ujar Sidir.

Atas dasar itulah dia mencoba beralih bertani kopi. Setiap kali panen kopi, Sidir menghasilkan sekitar 65 kilogram biji kopi dari kebunnya. Dengan harga jual biji kopi mentah senilai Rp16.000 per kilogram, dia mendapat penghasilan Rp1.040.000 setiap bulannya. Lumayan pikirnya, sudah lebih baik dari bertani karet.

Meski begitu, hasil yang diraih tetap tidak cukup untuk keluarganya. Selain makan sehari-hari, tentu dia harus memikirkan pendidikan dan kesehatan anak istrinya.

Kemudian, tibalah saat Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) melalui lembaga Zakat Community Development (ZCD) hadir di Desa Lubuk Bangkar, Kecamatan Batang Asal, Kabupaten Sarolangun, Jambi, tempat tinggal Sidir, pada pertengahan 2019. BAZNAS hadir untuk mengangkat harkat kehidupan masyarakat dhuafa di Desa Lubuk Bangkar.

“Dulu sebelum mendapat pendampingan dari ZCD BAZNAS, saya menjual biji kopi mentahnya, sehingga harganya rendah. Alhamdulillah, setelah mengikuti pelatihan dan pendampingan dari ZCD, saya mengolahnya terlebih dahulu, baru kemudian menjualnya, sehingga harga jualnya lebih tinggi,” kata Sidir.

Sidir segera bergabung dengan program ZCD BAZNAS bersama Kelompok Pengolahan Kopi Bukit Tempurung. Dia tak punya keahlian dan pengetahuan untuk mengolah kopi. Lantaran hal itu, Sidir pun dengan giat belajar bertani kopi yang baik. Sidir belajar membedakan jenis-jenis kopi, cara merawat kopi, sampai mengolah dan memasarkannya, sehingga harga jualnya bisa lebih tinggi.

“Saya tidak lagi menjual biji kopi mentahan, melainkan saya mengolahnya terlebih dahulu. Ilmu yang saya dapatkan dari pendampingan, langsung saya praktikkan,” ucap Sidir.

Dengan mengolah biji kopi hasil panen sebelum dijual, penghasilan Sidir meningkat hampir 50 persen dari sebelumnya. Sidir memiliki target meningkatkan hasil panennya, sehingga akan berdampak pada hasil penjualan. Jika saat ini hasil panen sekitar 65 kilogram setiap bulan, Sidir menargetkan peningkatan hasil panen 50 persen.

Selain peningkatan pendapatan, Sidir juga merasakan peningkatan kualitas spiritual bersama BAZNAS. ZCD BAZNAS tidak hanya memberdayakan mustahik dari segi ekonomi, namun juga memotivasi mustahik untuk selalu bersyukur kepada Allah.

Pembinaan spiritual ini disampaikan melalui program pengajian rutin dan kegiatan keagamaan lainnya.

Sidir merasa bersyukur bisa bergabung dengan program ZCD BAZNAS. Melalui jalan ZCD, Sidir bisa memperbaiki kualitas hidupnya dan keluarganya. Siapa sangka Sidir menyimpan asa untuk menjadi muzaki suatu hari nanti. “Doakan saya semoga kelak bisa menjadi muzaki,” pungkasnya.#

Artikel Terkait