oleh

Menag Harap Sidang MPL-PGI 2021 Hasilkan Program Strategis Bina Umat

JAKARTA (Suarakaryanews.com): Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas berharap Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (MPL-PGI) 2021 dapat menghasilkan program-program strategis yang bisa menjangkau umat. Sebab, umat butuh bimbingan dari para tokoh agamanya.

Harapan ini disampaikan Menag Yaqut Cholil saat mengisi rangkaian Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (MPL-PGI) 2021 yang dibuka oleh Presiden Joko Widodo.

MPL-PGI 2021 berlangsung pada 25-26 Januari 2021, dengan mengusung Tema: Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir (Wahyu 22:12-13), Memperkuat Solidaritas Kebangsaan, Mengadaptasi Pola Hidup Baru di Tengah Pandemi.

“Saya berharap sidang ini menghasilkan program-program strategis yang bisa menjangkau umat karena umat butuh bimbingan dari para tokoh agamanya. Saya khawatir bila kita meregangkan hubungan dengan umat maka umat tidak ada yang ‘menggembala’ seperti istilah dalam umat Nasrani,” kata Gus Menteri, Senin (25/01/2021), seperti dilansir situs resmi Kementerian Agama Republik Indonesia laman kemenag.go.id.

Menag mengatakan, Kementerian Agama saat ini sudah melakukan pemetaan problem keagamaan di Indonesia dan bertemu dengan para tokoh lintas agama, termasuk dengan PGI.

“Kemarin saya ke Katedral untuk bertemu dengan Uskup Agung Jakarta dan beberapa tokoh agama lainnya untuk berdiskusi moderasi beragama. Dalam beberapa kali pertemuan saya ilustrasikan pemeluk agama itu seperti suporter sepakbola yang kadang bisa bersatu, kadang tawuran di lapangan. Nah semua itu tergantung pada bagiamana wasit yang memimpin pertandingan sehingga tidak memancing penonton untuk tawuran,” ujar Menag.

“Agama dalam satu sisi sangat mendamaikan. Semua agama pasti menonjolkan norma kedamaian, kasih sayang dan cinta kasih. Saya ingin meletakkan diri saya sebagai wasit yang benar-benar bersikap adil kepada semua pemeluk agama. Tentu ini tidak berhenti hanya sekadar jargon. Saya mohon dikritik dan diingatkan jika komitmen saya untuk menjadikan Kementerian Agama sebuah kementerian yang melayani semua umat beragama tidak berjalan dengan semestinya,” sambung Menag.

Dikatakan Menag, bila kualitas keagamaan dan keimanan umat semakin baik dan meningkat, pasti akan berdampak pada ketenteraman dan kejayaan bangsa Indonesia.

Mengutip Matius 22:37-40, Menag mengatakan “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia-manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

“Ini ayat yang saya kutip sangat luar biasa dan mengingatkan kita bagaimana beragama tidak boleh didasarkan oleh keimanan buta namun ada kasih Tuhan. Syarat untuk kita melakukan moderasi beragama itu kita dituntut memiliki sifat inklusif dalam melihat kemajemukan masyarakat Indonesia,” kata Menag.*

Artikel Terkait