oleh

Pers Tidak Boleh Kalah Apalagi Mati

JAKARTA (suarakaryanews.com): Wabah pandemi Covid-19 tak hanya meluluhlantakkan sektor kesehatan, pun juga ekonomi ikut terkena imbasnya. Bagi sebagian pengusaha, bisnis media dinilai tidak lagi menguntungkan, utamanya media cetak. Namun begitu, peran pers masih dinilai penting dalam kehidupan masyarakat. Pers tidak boleh kalah oleh keadaan, apalagi mati.

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham), Yasonna H. Laoly saat memberikan keynote speech secara daring dalam Konvensi Nasional Media Massa Hari Pers Nasional 2021 menekankan pentingnya peran pers dalam kehidupan bermasyarakat. Kendati pandemi telah memberikan dampak penurunan yang signifikan terhadap kesejahteraan ekonomi media dan pers, namun Yasonna meminta agar pers tetap hidup.

“Pers tidak boleh kalah apalagi mati menghadapi keadaan (pandemi Covid-19) ini. Siapa lagi yang akan menyuarakan dan mengawal suara kebenaran, jika bukan pers,” kata Yasonna. “Siapa lagi yang akan menggaungkan tuntutan wong cilik dari tempat terpencil dan terpelosok, jika bukan pers,” tambahnya kepada seluruh peserta konvensi, seperti dilansir laman kemenkumham.go.id.

“Pers adalah bagian dari esensi dunia demokrasi, bahkan menjadi pilar ke-empat, selain trias politica. Pers harus tetap hidup sebagai jaminan hidupnya demokrasi yang sehat di Indonesia,” lanjut Yasonna dalam sambutannya.

Strategi bisnis dalam menghadapi ketatnya persaingan usaha dunia digital akibat tekanan dari disrupsi media digital, kata Yasonna, pers dapat melakukan integrasi media dalam sebuah platform baru, atau bisa disebut sebagai konvergensi media.

Saat ini, perihal konvergensi media memang belum ada regulasinya. Namun, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) membuka pintu kepada seluruh stakeholder untuk dapat berdiskusi terkait konvergensi media.

“Kemenkumham sangat terbuka lebar bagi seluruh stakeholder untuk berdiskusi terkait hal (konvergensi media) ini, agar produk dari materi regulasi menguntungkan seluruh pihak, baik pemerintah, insan pers, dan perusahaan media,” kata menkumham, Senin (08/02/2021).

Yasonna meminta kepada insan pers dan media untuk dapat melakukan berbagai inovasi, serta menyesuaikan diri dalam perkembangan dan kebutuhan zaman.

“Selanjutnya media sendiri harus melakukan berbagai perubahan tayangan, sehingga menjadi media yang berbeda,” ujar Yasonna dalam sambutannya yang bertemakan “Pers Nasional Bangkit dari Krisis Ekonomi Akibat Pandemi Covid-19”.

“Media sendiri harus mulai mencari program inovatif dan fresh, mengkreasi konten menjadi lebih menarik, melibatkan audiens secara online dan offline serta mengeksplorasi berbagai pendekatan baru dalam jurnalisme,” sambung Yasonna di ruang kerjanya.

Yasonna menekankan media jangan sampai kehilangan nalar kreatif dan produktifnya. Media harus tetap eksis sebagai corong kebenaran di tanah air dan menjadi rujukan kredibel untuk informasi publik.

“Dalam pencarian strategi dan pendekatan baru, paradigma yang harus dikedepankan adalah paradigma yang diatur dalam kode etik jurnalistik. Pers Indonesia harus bersikap profesional, menjunjung tinggi kebenaran, kritis, dan independen, dengan tetap mengedepankan moral, kepribadian, jati diri, dan karakter bangsa,” tutup Yasonna.#

Artikel Terkait